KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF // AINUL ANDY SUDARMOKO // CGP-05 KABUPATEN MALANG

A. Kesimpulan 

        Peran saya dalam menerapkan disiplin postif adalah dengan membuat komunitas pengajar di lingkungan sekolah untuk membuat sebuah pertemuan yang spesifik membahas tentang apa yang belum dilaksanakan dengan baik di sekolah dan rencana pengembangan ke depan. Hal tersebut terbukti dengan adanya pertemuan pada awal semester ganjil ini yang membahas hal-hal yang perlu dilaksanakan dan sebelumnya belum pernah ada program yang demikian di sekolah kami. Program tersebut antara lain adalah menyambut siswa tiap pagi, kegiatan keagamaan, dan sabtu ceria. Yang mana program-program tersebut adalah sarana untuk mengembangkan budaya postif di sekolah kami. 

    Peran lain yang telah saya laksanakan adalah dengan memberikan modifikasi hukuman dan penghargaan dengan pendekatan yang lebih ke arah restitusi, sehingga anak secara langsung akan mengetahui apa yang mereka lakukan tersebut merupakan sebuah perbuatan yang tidak perlu diulang lagi, namun hal ini masih dalam tahap awal sekali, mengingat anak-anak belum terbiasa dengan tindakan restitusi. Namun, lambat laun akan menerapkan hal ini secara sepenuhnya baik di kelas maupun sekolah, sehingga akan menganggap anak-anak sebagai insan yang memilki kehendak dan jalan untuk mengatasi masalahnya masing-masing. 

    Saat ini saya lebih banyak menerapkan posisi kontrol sebagai pemantau dan ke depan saya lebih banyak memposisikan diri sebagai seorang manajer, sebelum saya mengenal filosofi/pemikiran KHD saya adalah seorang guru yang lebih suka memberikan hukuman, namun saat ini saya mengerti dan memahami, bahwa hukuman tidak membuat anak/murid memiliki kepribadian yang baik setelah di hukum, mereka akan memiliki kepribadian menuju kegagalan. Memang melalui pendidikan calon guru penggerak ini, mainset saya berubah secara perlahan tentang cara pandang saya terhadap murid dan pembelajaran dan pendidikan mereka.  

    Pada awal semester saya juga sudah membuat kesepakatan kelas bersama murid, meskipun hal ini sudah saya lakukan sudah sekian lama. Bedanya dari yang sebelumnya adalah melibatkan murid lebih banyak dalam membuat kesepakatan tersebut, saya hanya memberikan rambu-rambu dan arahan tentang beberapa hal yang harus dibuat oleh murid. Pembuatan kesepakatan kelas ini cukup efektif untuk mengontrol murid, karena masih ingat betul tentang apa yang mereka buat dalam  bentuk peraturan kelas tersebut. Hal ini lebih memiliki dampak dalam hal penanaman budaya positif di dalam kelas. Kemudian untuk setiap kesalahan murid juga sebisa mungkin saya selesaikan dengan segitiga restitusi, meskipun hal ini seringkali dianggap angin lalu oleh sebagian murid.  

    Materi pada modul ini erat kaitannya dengan Filosofi pendidikan KHD, karena menuntun murid ke arah yang lebih baik melalui cara-cara yang memerdekakan murid dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah dengan segitiga restitusi. Cara ini sungguh sempurna menurut saya dalam hal humanisnya terhadap murid, karena murid tidak lagi dipandang sebagai orang yang patut menerima hukuman ketika salah dan menerima hadiah ketika melakukan sebuah kebaikan, namun lebih menekankan pada prinsip menang-menang dan perwujudan pribadi sukses.  Selain dari hal tersebut dalam modul ini juga melibatkan nilai dan peran guru penggerak terutama berpihak pada murid dan reflektif, melalui kedua nilai ini pembelajaran sangat humanis dan berpusat pada siswa baik dalam hal pembelajaran maupun hal lainnya, misal: ketika murid melakukan kesalahan mereka diminta untuk membuat refleksi dalam penyelesain masalahnya, sehingga mereka merasa dimanusiakan atau guru sangat berihak kepada mereka dalam menyelesaikan masalahnya. Tidak ada lagi kesan guru adalah seorang yang gemar menghukum dan orang yang dapat menimbulkan murid sebagai pribadi yang inferior (karena merasa bersalah). Kedua hal tersebut dapat dijadikan sebagai landasan seorang calon guru penggerak untuk mewujudkan visinya dalam pembelajaran, yang mana visi tersebut harus berpusat, berpihak, dan mengedepankan nilai-nilai luhur Profil Pelajar Pancasila. Visi guru penggerak tersebut muncul dari adanya identifikasi secara mendalam atas potensi baik/aset baik dilihat dari dalam diri guru penggerak atau lingkungan sekitarnya melalui cara inkuiri apresiatif dan diwujudkan dalam dalam sebuah usaha konkret dengan menggunakan tahapan BAGJA. Apabila boleh saya kutip dari gambar yang bersumber dari: https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/tugas-1-4-a-9-koneksi-antar-materi-budaya-positif/ adalah gambaran umum keterkaitan antar materi 1.1, 1.2, 1.3, dan 1.4 adalah sebagai berikut.

 
B. Pemahaman Tentang Konsep Disiplin Positif, Teori Kontrol,  Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Posisi Kontrol Guru, Kebutuhan Dasar Manusia, Keyakinan Kelas, dan Segitiga Restitusi.

        Konsep-konsep tersebut apabila saya jabarkan menurut pemahaman saya adalah sebagai berikut:

1. Disiplin Positif adalah sebuah pembelajaran yang dilaksanakan manusia atau dalam konteks ini adalah murid merupakan sebuah tindakan yang muncul karena adanya dorongan dari dalam diri yang bersangkutan untuk melakukan hal-hal yang sifatnya baik. Hal ini dapat dilaksanakan dengan penanaman nilai-nilai baik di lingkungan sekolah, sehingga dengan terbiasa melakukan hal-hal baik ini murid akan menjadi pribadi yang memiliki disiplin positif dalam dirinya. Sebagai refleksi diri saya adalah penanaman disiplin postif ini haruslah berpihak pada anak dengan menananmkan nilai-nilai kebajikan universal, dengan hal tersebut anak akan menjadi pribadi yang sukses.

2. Teori kontrol adalah sebuah teori yang berpendapat bahwa tidak ada manusia yang mampu mengontrol manusia lain, manusia melakukan setiap tindakannya pasti ada alasan atau tujuan tertentu. Manusia akan melakukan sebuah  tindakan pada hakikatnya adalah karena apa yang ia inginkan. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka kita sebagai seorang guru adalah tidak ingin menjadi pengontrol murid, namun mengakomodasi dan mengarahkan mereka sesuai dengan apa bakat dan minat mereka secara tepat. Apabila kita mampu melakukannya maka murid akan melaksanakannya dengan senang hati dan pada akhirnya akan timbul budaya positif.

3. Teori Motivasi adalah tergeraknya manusia untuk melakukan sesuatu. Pada teori ini motivasi manusia dibagi menjadi 3 jenis motivasi yaitu: motivasi melakukan sebuah pekerjaan karena ingin menghindari hukuman atau rasa sakit, motivasi melakukan suatu tindakan karena ingin mendapatkan reward baik berupa pujian atau benda lainnya, dan yang terakhir adalah motivasi ingin menghargai dirinya sendiri sebagai seorang manusia yang memiliki akal budi serta konteksnya menajdi insan kamil yang senantiasa ingin belajar sepanjang hayatnya.

4. Hukuman dan penghargaan adalah sebuah hal yang saling berhubungan satu sama lain. hukuman adalah sebuah tindakan yang diberikan kepada seseorang secara searah karena orang tersebut melakukan sebuah kesalahan, orang yang salah ini tidak memiliki nilai tawar atau memiliki pengetahuan sebelumnya tentang hukuman yang akan ia terima. Sedangkan penghargaan adalah sebuah bentuk penilaian tehadap seseorang karena telah  melakukan sesuatu sesuai dengan perintah yang diberikan. Kedua hal ini sudah tidak relevan lagi diberikan kepada murid di dalam kelas. Karena baik hukuman dan penghargaan akan menimbulkan maalah yang mengarah pada hal-hal negatif terutama pada motivasi belajar murid. Murid akan melaksanakan tugas dengan baik karena takut akan hukuman ataupun ingin mendapatkan penghargaan. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa banyak murid yang tidak berhasil karena kedua hal tersebut. Hal ini lah yang membuat saya tertarik dan di luar dugaan, karena saya berpikir dengan kedua hal tersebut akan meningkatkan motivasi siswa namun bertolak belakang. Hal lain yang membuat saya tertarik adalah karena hal tersebut masih sagat sering diterapkan di dunia pendidikan di Indonesia.

5. Posisi Kontrol Guru adalah cara yang digunakan oleh seorang guru untuk berinteraksi dengan muridnya yang berhubungan dengan tanggung jawab, aturan, dan konsekuansi. Posisi kontrol seorang guru ada beberapa, diantaranya adalah sebagai penghukum, sebagai pemberi rasa bersalah, sebagai teman, sebagai pemantau, dan sebagai manajer. Namun posisi terbaik adalah sebagai manajer. Posisi tersebut lebih menekankan ke arah restitusi, dimana segala masalah dapat diselesaikan dengan baik dan humanis. 

6. Kebutuhan Dasar Manusia, manusia memiliki beberapa kebutuhan dasar. Kebutuhan dasar ini juga berlaku pada kehiduoan peserta didik di dalam kelas. Kebutuhan dasar yang dimaksud adalah sebagai berikut: 



7. Keyakinan Kelas adalah beberapa hal yang diakui kebenarannya oleh setiap anggota kelas. Keyakinan kelas dibuat oleh murid dengan dituntun guru untuk merumuskannya, keyakinan kelas memiliki fungsi yang cukup vital dalam hal penciptaan disiplinpostif di dalam kelas ataupun di luar kelas.

8. Segitiga Restitusia adalah upaya untuk menemukan sebuah solusi dari permasalahan yang menimpa murid. Murid yang melakukan kesalahan tidak lagi dihukum dengan cara-cara yang tidak berhubungan dengan kesalahan yang mereka lakukan. Segitiga restitusi dapat dijabarkan seperti diagram dibawah ini:


C. Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Cara berpikir saya yang berubah adalah tentang memandang kesalahan anak dan kontrol terhadap anak (murid). Mereka adalah mahkluk yang memilki kehendak dan tujuan sendiri, kita sebagai guru tidaklah mungkin mengontrol mereka secara penuh. tugas kita sebagai seorang guru adalah untuk menuntun mereka untuk memilki budaya postif yang diwujudkan melalui budaya postif di lingkungan sekolah.

D. Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Pengalaman saya dalam menerapkan budaya postif ini adalah seringnya menemukan murid yang melanggar peraturan sekolah, namun setekah ditanya lebih mendalam mereka secara pengetahuan dan keterlibatan tidak mengetahui dan mengenali hal tersebut, hal tersebutlah yang menjadikan mereka seolah acuh terhadap aturan tersebut. 

E. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?
Perasaan saya mersa terpanggil untuk lebih mendekatkan hal-hal yang sifatnya aturan dan sebuah hal positif diberikan sosialisasi dan melibatkan murid dalam merumuskannya.

F. Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki

Hal-hal yang sudah baik adalah mengenai disiplin murid ketika berangkat sekolah dan melaksanakan kegiatan keagamaan. Hal yang perlu dipernaiaki adalah tentang pengutan cinta lingkungan terutama kebersihan di lingkunga  sekitar kelas atau sekolah, karena sebagian murid masih sangat sulit sekali untuk menjalankan pola hidup bersih.

G. Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?

Seperti yang saya sampaikan di awal, saya sebelum mempelajari modul 1.1 sampai dengan 1.4 ini seringkali memposisikan diri sebagai seorang penghukum dan pemberi rasa bersalah. Namun setelah mempelajari modul-modul tersebut saya melakukan sebuah refleksi, bahwa untuk menuntun peserta didik tidaklah tepat dengan cara-cara semacam itu. Murid akan lebih solutif dan reflektif apabila diberikan cara penyelesaian masalah atau pelanggaran mereka dengan cara segitiga restitusi dan guru memposisikan diri paling tidak sebagai pemantau, atau bahkan menjadi seorang manajer.

H. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi?

Sebelumnya sudah pernah menerapkan, namun tidak dengan urutan yang ada pada segitiga restitusi.

I. restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Saya mempraktikannya secara utuh sebagai mana diagram yang saya tampilkan diatas.

J. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

Saya kira sudah cukup lengkap dan baik apabila saya mampu menerapkan apa yang ada dalam modul ini di dalam kelas atau pun lingkup yang lebih luas, dalam hal ini adalah sekolah.

Komentar